Alat Bantu Hitung
Daftar Belanja Masih KosongProduk Omocha
Artikel
About Us
Other Menu
Omocha Visitors






![]() | Today | 275 |
![]() | Yesterday | 616 |
![]() | This week | 3641 |
![]() | Last week | 3467 |
![]() | This month | 10548 |
![]() | All | 365060 |
Your IP:: 38.107.179.209
,
Now is: 2012-05-20 13:43
| Memulai Bisnis 14 - Ikan masih di laut, lada garam sudah di sengkalan |
| Written by Omocha Toys |
| Sunday, 22 January 2012 09:03 |
|
“Don't wait until everything is just right. It will never be perfect. "Jangan menunggu sampai semua lengkap. Itu tidak akan pernah sempurna. Ada tiga peribahasa. Masing-masing dari Itali, Inggris dan Jepang,
Ketiganya mempunyai makna yang sama, yaitu "Jangan terlalu berharap pada sesuatu yang belum pasti". Peribahasa Itali : Non vendere la pelle dell'orso prima di averlo preso. Non = tidak Jadi “Non vendere la pelle dell'orso prima di averlo preso”, berarti : Jangan menjual kulit beruang, sebelum beruang tersebut ditangkap. Peribahasa Jepang : Toranu Tanuki no Kawazanyo. Toranu = Toranai = Tidak diambil (Belum ditangkap) Jadi “Toranu Tanuki no Kawazanyo” berarti Menghitung penjualan kulit Tanuki yang belum tertangkap. Toranu Tanuki no Kawazanyo menggambarkan orang yang menghitung-hitung keuntungan dari penjualan kulit tanuki, padahal binatangnya saja belum ditangkap. Peribahasa-peribahasa asing di atas menasehatkan kita untuk jangan mengharapkan hasil yang belum pasti. Apakah tidak ada peribahasa tersebut dalam bahasa kita? Sudah tentu, ada dong. Yaitu : "Ikan masih di laut, lada garam sudah di sengkalan". Yang artinya, sudah bersiap sedia mengecap hasil yang belum lagi diperoleh. [Sengkalan = pengisar rempah-rempah, kayu yang dipakai untuk menggiling rempah-rempah. KBBI edisi ketiga, hal 1036] [Wikipedia, kategori peribahasa]. Sepertinya ada tiga hal yang memperlambat memulai bisnis,
Perlu dicatat, Penulis menggunakan kata Sepertinya, karena memang, penulis tidak punya data (dasar) yang jelas. Jenis artikel ini adalah tulisan populer, bukan jenis tulisan resmi (ilmiah, dokumen, dan sejenisnya). Jadi pembaca juga tidak perlu terlalu serius. Beberapa pelaku usaha punya kiat untuk mengatasi hal ini. Guru dari banyak Enterpreneur, pendiri Enterpreneur University, Kiat Purdi E. Chandra menyamakan bisnis dengan ke kamar mandi. Kutipan dari Purdi, "Bisnis adalah sama dengan ke kamar mandi". Kata beliau, "Apakah kalau kita mau ke kamar mandi, kita berpikir dulu? Apakah kita berpikir nanti kita pakai gayung begini, toiletnya bagaimana dlsb? Tentu tidak bukan? Kalau kita mau ke kamar mandi, ya sudah kita ke kamar mandi saja. Setelah di kamar mandi, melihat kondisi yang ada kita bisa sendiri bukan?" Kiat Bob Sadino “Berhentilah membuat rencana! Melangkahlah!”. Menurut Bob Sadino, banyak orang bodoh lebih cepat memulai usaha. Kenapa? Karena orang bodoh tidak bisa analisa ini-itu, tidak bisa berhitung untung-rugi. Orang bodoh tidak banyak ide dan rencana. Orang bodoh tidak banyak pilihan. Jadi ya gitu deh, karena orang bodoh tidak punya pilihan lain, ya mulai usaha saja. Bob Sadino biasa dipanggil dengan Om Bob. Dia adalah pemilik jaringan Kemfood dan Kemchick. Bob merupakan orang pertama di Indonesia yang menggunakan perladangan sayur sistem hidroponik. Bob juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah. Terminologi bodoh dan pintar di sini, jangan terlalu dimasukkan ke hati ya. Om Bob memang begitu. Yang penting kita mengerti maksud beliau. Tidak ada maksud menyandingkan dengan kedua pelaku usaha di atas, jauh-jauh di level bawah, di level pelaku usaha rakyat, usaha ibu rumah tangga. Kiat bu Yuni Yoyok, tukang mainan edukatif Omochatoys (www.omochatoys.com) adalah, “Gelar Lapak”. Bu Yuni bilang, "Namanya dagang, orang harus tahu kita jualan. Belum punya toko, gelar lapak saja pakai tikar. Tidak punya tikar, gelar lapak pakai koran! Yang penting usaha dimulai". Omong-omong, kalau mengikuti philosofi om Bob, bu Yuni masuk di kategori bodoh atau pintar ya? Baik pak Purdi, om Bob dan bu Yuni masing-masing punya alasan sendiri untuk memulai usaha. Alasan om Bob adalah ingin punya usaha, sedang alasan bu Yuni adalah ingin punya pekerjaan dan penghasilan. Tapi yang jelas, mereka sudah memulai. Jika mengikuti pola dari Purdi, om Bob, dan Yuni, kelihatannya mereka gampang-gampang saja mulai berbisnis. Tapi sebetulnya usaha mereka juga tidak langsung berputar, mereka juga jatuh bangun. Pastinya, mereka juga punya perhitungan, tidak asal-asalan. Coba lihat bisnis yang mereka lakukan. Usaha mereka adalah usaha riil. Usaha nyata. Purdi melakukan bisnis jasa bimbingan belajar, rumah makan padang dll. Bob Sadino bisnis ayam, pangan, peternakan, holtikultura, dll. Yuni bisnis mainan (belum ada dll-nya). Riil sekali. Barang yang diperlakukan jelas, pemakai (end user) nya jelas. Mereka tidak menjalankan bisnis yang tidak jelas. Yang tidak kelihatan barangnya. Tidak ada usaha yang langsung jadi. Tidak ada cara mudah cari uang. Baik menggunakan internet ataupun tidak, tidak mungkin uang datang sendiri. Kita diwajibkan berpikir, karena kita punya pikiran. Kita juga harus bertanya, agar tidak sesat di jalan. Kita juga perlu berhitung agar tidak konyol. Tapi kalau terhenti di situ, itu yang disayangkan. Kita jangan terlalu hitung-hitungan dulu sebelum mencoba. Kita jangan berharap dulu sebelum dapat hasilnya. Peribahasa Jepang mengatakan "Toranu Tanuki no Kawazanyo". Peribahasa Indonesia mengatakan "Ikan masih di laut, lada garam sudah di sengkalan". ---***--- |
| Last Updated on Monday, 14 May 2012 17:10 |





